wow, inilah seorang bapak-bapak yang melarat......
habis diputusin selingkuhannya,,,,,,,,
(saucha alias ocha 'sang kakak dari sasuturi)
cobaan adalah suatu anugerah dari Tuhan. Ketika cobaan datang, kita akan selalu merasa kesusahan dan pada saat itu juga kita akan berbuat baik dan selalu mengingat Tuhan
say hello to all
hello semua, lam kenal smua,,,,,,,,, selamat datang di blog sastri ds sukawati gianyar bali trisma
ikutilah setiap entri terbaru dari q,,,,,,,
don't forget........ and please give me a chance
ikutilah setiap entri terbaru dari q,,,,,,,
don't forget........ and please give me a chance
Jumat, 03 September 2010
Jumat, 20 Agustus 2010
ida pedanda made gunung
da Pedanda Gede Made Gunung
Sosok Ida Pedanda Gede Made Gunung belakangan banyak diperbincangkan umat Hindu. Tokoh Hindu yang satu ini dinilai banyak kalangan memiliki pemikiran yang jauh kedepan, trampil dalam "menerjemahkan" tatwa agama dengan bahasa yang jelas dan lugas serta memiliki rasa humor yang tinggi. Pedanda yang dilahirkan di Gria Gede Kemenuh Purnawati ini, seolah - olah mengubah citra Pedanda (Pendeta Hindu) dari sekedar muput karya (memimpin pelaksanaan upacara), menjadi pemberi Dharma Wacana, disamping tentunya juga muput karya. Tidak mengherankan jika wajah beliau acapkali muncul di berbagai media, baik media elektronik maupun media cetak, untuk memberikan dharma wacana (wejangan suci) kepada umat Hindu. Beliau memberikan dharma wacana tidak hanya di Bali, tetapi juga di luar bali seperti Jakarta hingga ke Kalimantan. Beliau juga sempat matirta yatra ke India bersama Dr.Somvir.
Setelah menamatkan SD (1965) di Blahbatuh dan SMPN (1968) di Gianyar, beliau lalu melanjutkan pendidikan ke Taman Guru Atas (1971) di Sukawati. Beliau kemudian bekerja sebagai Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) Gianyar (1972 - 1974), lalu menjadi guru SD di mawang Ubud (1975 - 1983) dan selajutnya pindah ke SD 7 Saba (1987 - 1994). Tahun 1992 beliau sempat mendapat peringkat sebagai guru teladan Kecamatan Blahbatuh. Disela -sela kesibukan sebagai guru, beliau melanjutkan pendidikan di Institut Hindu Dharma (IHD) hingga memperoleh gelar Sarjana Muda pada tahun 1986. Beliau Madiksa atau menjadi pedanda pada tahun 1994 dan sejak tahun 2002 sampai sekarang beliau menjadi dosen luar biasa di almamaternya di Fakultas Usada Universitas Hindu Indonesia, sebutan IHD sekarang.
Selain itu beliau juga aktif dalam kegiatan organisasi sejak akhir tahun 1960-an. Mula - mula di bidang olah raga, menjadi pemain voli seleksi PON Bali, menjadi pelatih karate (sabuk hitam), dan kemudian organisasi keagamaan. Mula - mula beliau aktif di Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) kecamatan Blahbatuh, PHDI Gianyar (1989-1994) PHDI Bali (1994-2001) dan PHDI Bali versi Campuhan (2001-2006)
Catatan Sebelum Madiksa
Dua tahun sebelum madiksa (menjadi pendeta), beliau sudah mulai membenahi pola pikir, perkataan dan perbuatan sebagai persiapan memasuki dunia kependetaan. Suatu hari, kira-kira 4 bulan sebelum madiksa, beliau pergi mengunjungi Rumah Sakit Sanglah untuk melihat mereka yang dirawat disana, beliau ingin merasakan bagaimana kondisi dan penderitaan mereka yang sedang sakit , beliau juga berjalan mengunjungi UGD, mengunjung bangsal - bangsal yang lain hingga berakhir di depan kamar mayat. Setelah itu beliau mengunjungi Rumah Sakit Wangaya untuk tujuan yang sama. Beliau juga mengunjungi Super Market, sekedar untuk melihat bagaimana anak - anak bermain dan menikmati santapan. Disana beliau sempat diikuti oleh satpam, yang barangkali merasa agak janggal karena melihat beliau yang berjenggot, berambut panjang dan menggunakan destar datang ke tempat seperti itu dan seperti dengan tujuan yang tidak jelas. Setelah itu beliau mengunjungi super market yang lain yang baru saja di buka. Beliau tidak mengunjungi diskotik atau tempat hiburan yang lain karena untuk mengunjungi tempat seperti itu harus membayar terlebih dahulu. Setelah itu beliau melanjutkan perjalanan ke pasar burung, mendengarkan kicauan burung dan melihat berbagai jenis peliharaan yang dijual disana. Disamping itu beliau juga pernah ikut menjadi sopir truk mengikut temany beliau yang menjadi sopir truk untuk mengirim pasir dari Klungkung ke daerah lain di Bali. Beliau melakukan itu untuk mengetahui bagaimana rasanya menjadi sopir truk. Setelah beliau merasa sudah cukup, mulailah beliau menyusun program tangkil (menemui) para sulinggih (pendeta) se-Bali. Dalam buku harian beliau, tercatat beliau pernah tangkil kepada 325 sulinggih.
Untuk apa beliau melakukan semua itu? Beliau mengatakan semua itu sebagai persiapan mental untuk memasuki dunia kependetaan. Seperti merintis sebuah bangunan, sebelum memulai membangun seseorang perlu melihat berbagai model bangunan yang ada sebagai perbandingan dalam merencanakan bangunan yang baru. Unsur-unsur yang cocok ditiru, yang kurang cocok dipelajari dan seterusnya. Dan ternyata semua yang beliau dapat dari pengalaman tersebut sangat mendukung tugas-tugas yang harus beliau emban sekarang. Semua babonnya dari sana. sebuah contoh sederhana, begitu menjadi Pedanda, banyak orang yang tangkil dan semuanya bermacam-macam. Ada yang halus dan adakalanya agak emosional. Semua harus dihadapi dengan sabar. Tidak mungkin dihadapi dengan kekerasan dan main pukul seperti sewaktu beliau menjadi pelatih karate dulu. Kalupun sekarang beliau memukul, tidak menggunakan pukulan fisik tetapi pukulan rohani. Tingkat kerohanian akan berjalan baik apabila didukung oleh pengalaman, mental dan fisk yang kuat.
Beliau mengatakan bahwa tujuan utama beliau untuk menjadi Pedanda bukat semata hanya untuk muput yadnya, melainka senantias meningkatkan kualitas kerohanian atau Dharma Agama. Muput yadnya baru dilaksanakan kalu ada orang yang ngaturang, dalam arti kalau ada yang datang diterima kalu tidak ada tidak apa-apa. Seperti air pancuran, ada atau tidak orang yang datang untuk mengambil air, pancurannya tetap akan mengalir.
Biodata Ida Pedanda Gede Made Gunung
Nama (Walaka) : Ida Bagus Gede Suamem
Nama (Diksa) : Ida Pedanda Gede Made Gunung
Tempat/Tanggal Lahir : Geria Gede Kemenuh Purnawati Blahbatuh / 1952
Sosok Ida Pedanda Gede Made Gunung belakangan banyak diperbincangkan umat Hindu. Tokoh Hindu yang satu ini dinilai banyak kalangan memiliki pemikiran yang jauh kedepan, trampil dalam "menerjemahkan" tatwa agama dengan bahasa yang jelas dan lugas serta memiliki rasa humor yang tinggi. Pedanda yang dilahirkan di Gria Gede Kemenuh Purnawati ini, seolah - olah mengubah citra Pedanda (Pendeta Hindu) dari sekedar muput karya (memimpin pelaksanaan upacara), menjadi pemberi Dharma Wacana, disamping tentunya juga muput karya. Tidak mengherankan jika wajah beliau acapkali muncul di berbagai media, baik media elektronik maupun media cetak, untuk memberikan dharma wacana (wejangan suci) kepada umat Hindu. Beliau memberikan dharma wacana tidak hanya di Bali, tetapi juga di luar bali seperti Jakarta hingga ke Kalimantan. Beliau juga sempat matirta yatra ke India bersama Dr.Somvir.
Setelah menamatkan SD (1965) di Blahbatuh dan SMPN (1968) di Gianyar, beliau lalu melanjutkan pendidikan ke Taman Guru Atas (1971) di Sukawati. Beliau kemudian bekerja sebagai Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) Gianyar (1972 - 1974), lalu menjadi guru SD di mawang Ubud (1975 - 1983) dan selajutnya pindah ke SD 7 Saba (1987 - 1994). Tahun 1992 beliau sempat mendapat peringkat sebagai guru teladan Kecamatan Blahbatuh. Disela -sela kesibukan sebagai guru, beliau melanjutkan pendidikan di Institut Hindu Dharma (IHD) hingga memperoleh gelar Sarjana Muda pada tahun 1986. Beliau Madiksa atau menjadi pedanda pada tahun 1994 dan sejak tahun 2002 sampai sekarang beliau menjadi dosen luar biasa di almamaternya di Fakultas Usada Universitas Hindu Indonesia, sebutan IHD sekarang.
Selain itu beliau juga aktif dalam kegiatan organisasi sejak akhir tahun 1960-an. Mula - mula di bidang olah raga, menjadi pemain voli seleksi PON Bali, menjadi pelatih karate (sabuk hitam), dan kemudian organisasi keagamaan. Mula - mula beliau aktif di Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) kecamatan Blahbatuh, PHDI Gianyar (1989-1994) PHDI Bali (1994-2001) dan PHDI Bali versi Campuhan (2001-2006)
Catatan Sebelum Madiksa
Dua tahun sebelum madiksa (menjadi pendeta), beliau sudah mulai membenahi pola pikir, perkataan dan perbuatan sebagai persiapan memasuki dunia kependetaan. Suatu hari, kira-kira 4 bulan sebelum madiksa, beliau pergi mengunjungi Rumah Sakit Sanglah untuk melihat mereka yang dirawat disana, beliau ingin merasakan bagaimana kondisi dan penderitaan mereka yang sedang sakit , beliau juga berjalan mengunjungi UGD, mengunjung bangsal - bangsal yang lain hingga berakhir di depan kamar mayat. Setelah itu beliau mengunjungi Rumah Sakit Wangaya untuk tujuan yang sama. Beliau juga mengunjungi Super Market, sekedar untuk melihat bagaimana anak - anak bermain dan menikmati santapan. Disana beliau sempat diikuti oleh satpam, yang barangkali merasa agak janggal karena melihat beliau yang berjenggot, berambut panjang dan menggunakan destar datang ke tempat seperti itu dan seperti dengan tujuan yang tidak jelas. Setelah itu beliau mengunjungi super market yang lain yang baru saja di buka. Beliau tidak mengunjungi diskotik atau tempat hiburan yang lain karena untuk mengunjungi tempat seperti itu harus membayar terlebih dahulu. Setelah itu beliau melanjutkan perjalanan ke pasar burung, mendengarkan kicauan burung dan melihat berbagai jenis peliharaan yang dijual disana. Disamping itu beliau juga pernah ikut menjadi sopir truk mengikut temany beliau yang menjadi sopir truk untuk mengirim pasir dari Klungkung ke daerah lain di Bali. Beliau melakukan itu untuk mengetahui bagaimana rasanya menjadi sopir truk. Setelah beliau merasa sudah cukup, mulailah beliau menyusun program tangkil (menemui) para sulinggih (pendeta) se-Bali. Dalam buku harian beliau, tercatat beliau pernah tangkil kepada 325 sulinggih.
Untuk apa beliau melakukan semua itu? Beliau mengatakan semua itu sebagai persiapan mental untuk memasuki dunia kependetaan. Seperti merintis sebuah bangunan, sebelum memulai membangun seseorang perlu melihat berbagai model bangunan yang ada sebagai perbandingan dalam merencanakan bangunan yang baru. Unsur-unsur yang cocok ditiru, yang kurang cocok dipelajari dan seterusnya. Dan ternyata semua yang beliau dapat dari pengalaman tersebut sangat mendukung tugas-tugas yang harus beliau emban sekarang. Semua babonnya dari sana. sebuah contoh sederhana, begitu menjadi Pedanda, banyak orang yang tangkil dan semuanya bermacam-macam. Ada yang halus dan adakalanya agak emosional. Semua harus dihadapi dengan sabar. Tidak mungkin dihadapi dengan kekerasan dan main pukul seperti sewaktu beliau menjadi pelatih karate dulu. Kalupun sekarang beliau memukul, tidak menggunakan pukulan fisik tetapi pukulan rohani. Tingkat kerohanian akan berjalan baik apabila didukung oleh pengalaman, mental dan fisk yang kuat.
Beliau mengatakan bahwa tujuan utama beliau untuk menjadi Pedanda bukat semata hanya untuk muput yadnya, melainka senantias meningkatkan kualitas kerohanian atau Dharma Agama. Muput yadnya baru dilaksanakan kalu ada orang yang ngaturang, dalam arti kalau ada yang datang diterima kalu tidak ada tidak apa-apa. Seperti air pancuran, ada atau tidak orang yang datang untuk mengambil air, pancurannya tetap akan mengalir.
Biodata Ida Pedanda Gede Made Gunung
Nama (Walaka) : Ida Bagus Gede Suamem
Nama (Diksa) : Ida Pedanda Gede Made Gunung
Tempat/Tanggal Lahir : Geria Gede Kemenuh Purnawati Blahbatuh / 1952
the secrets of life
orang sukses adalah orang yang mengerti keadaan orang lain.
orang baik adalah orang yang mampu berkorban demi orang lain.
orang yang sabar adalah orang yamg mampu mengontrol emosi.
orang yang pemurah adalah orang yang selalu mengiklaskan segala hal.
orang yang tenang adalah orang yang menganggap bahwa hidup adalah seperti air mengalir
orang baik adalah orang yang mampu berkorban demi orang lain.
orang yang sabar adalah orang yamg mampu mengontrol emosi.
orang yang pemurah adalah orang yang selalu mengiklaskan segala hal.
orang yang tenang adalah orang yang menganggap bahwa hidup adalah seperti air mengalir
hujan darah di india
Berikut sekilas penjelasan tentang Hujan Darah di India, Lebih 500.000 meter kubik air hujan berwarna merah membasahi ke bumi. Pada awalnya para ilmuwan hanya mengira air hujan berwarna merah itu dikarenakan polusi oleh pasir gurun, tetapi para Ilmuwan menemukan sesuatu yang mengejutkan, unsur merah darah di dalam air hujan tersebut adalah kumpulan berjuta sel hidup, sel yang bukan berasal dari bumi tapinya!
Hujan Darah yang pertama jatuh di distrik Kottayam dan Idukki di wilayah selatan India. Tidak hanya hujan berwarna merah, sebelumnya tepat 10 hari pertama dilaporkan adanya turun hujan berwarna kuning, hijau lalu pernah hujan berwarna hitam. Setelah 10 hari berulah intensitas curah hujan aneh tersebut mereda hingga September.
Contoh air hujan darah tersebut langsung dibawa untuk diteliti oleh pemerintah India dan ilmuwan setempat. Salah satu ilmuwan independen India yang melakukan penelitian yang bernama Godfrey Louis dan Santosh Kumara dari Universitas Mahatma Gandhi. Mereka telah mengumpulkan lebih dari 120 laporan dari para penduduk India setempat dan mengumpulkan contoh air hujan darah dari wilayah sepanjang 100 km. Sungguh merupakan kejadian aneh bukan, seperti adanya gosip Video Malaikat yang juga sempat menghebohkan kita semua.
Hujan Darah yang pertama jatuh di distrik Kottayam dan Idukki di wilayah selatan India. Tidak hanya hujan berwarna merah, sebelumnya tepat 10 hari pertama dilaporkan adanya turun hujan berwarna kuning, hijau lalu pernah hujan berwarna hitam. Setelah 10 hari berulah intensitas curah hujan aneh tersebut mereda hingga September.
Contoh air hujan darah tersebut langsung dibawa untuk diteliti oleh pemerintah India dan ilmuwan setempat. Salah satu ilmuwan independen India yang melakukan penelitian yang bernama Godfrey Louis dan Santosh Kumara dari Universitas Mahatma Gandhi. Mereka telah mengumpulkan lebih dari 120 laporan dari para penduduk India setempat dan mengumpulkan contoh air hujan darah dari wilayah sepanjang 100 km. Sungguh merupakan kejadian aneh bukan, seperti adanya gosip Video Malaikat yang juga sempat menghebohkan kita semua.
Kamis, 19 Agustus 2010
mengenangmu
* lirik lagu
* less than
* 1 minute
* my first love
* yang
* suka
Lirik Lagu KerisPatih – Mengenangmu
148Share
Takkan pernah habis air mataku
Bila ku ingat tentang dirimu
Mungkin hanya kau yang tahu
Mengapa sampai saat ini ku masih sendiri
*courtesy of LirikLaguIndonesia.net
Adakah disana kau rindu padaku
Meski kita kini ada di dunia berbeda
Bila masih mungkin waktu berputar
Kan kutunggu dirimu …
Reff:
Biarlah ku simpan sampai nanti aku kan ada di sana
Tenanglah diriku dalam kedamaian
Ingatlah cintaku kau tak terlihat lagi
Namun cintamu abadi …
* less than
* 1 minute
* my first love
* yang
* suka
Lirik Lagu KerisPatih – Mengenangmu
148Share
Takkan pernah habis air mataku
Bila ku ingat tentang dirimu
Mungkin hanya kau yang tahu
Mengapa sampai saat ini ku masih sendiri
*courtesy of LirikLaguIndonesia.net
Adakah disana kau rindu padaku
Meski kita kini ada di dunia berbeda
Bila masih mungkin waktu berputar
Kan kutunggu dirimu …
Reff:
Biarlah ku simpan sampai nanti aku kan ada di sana
Tenanglah diriku dalam kedamaian
Ingatlah cintaku kau tak terlihat lagi
Namun cintamu abadi …
GEDE ARYANTA SOETAMA
Tradisi Bali dalam Kisah-kisah Dilematis
Judul : Bunga Cepun
Penulis : Putu Fajar Arcana
Penerbit : Buku Kompas
Tebal : 156 hlm.
Tahun : 2003.
CERITA pendek (cerpen) dalam kumpulan ini didominasi tema-tema masalah adat dan tradisi Bali dalam konteks modernisasi. Adat dan tradisi Bali yang dilematis sudah sering muncul ke permukaan, namun dalam kumpulan cerpen ini, hal-hal tersebut dituturkan Putu Fajar Arcana dalam bentuk cerita yang cukup menyentuh. Siapa pun membaca cerita-cerita dalam antologi ini akan merasakan bahwa Bali tengah berada "di persimpangan jalan", bingung menuju arah mana masa depan hendak diraih.
Cerpen "Rumah Makam" merupakan cerita yang paling kental memotret dilema adat Bali dalam kehidupan sosial. Dikisahkan sebuah keluarga terpaksa mengubur jenasah ayahnya di rumah (sehingga rumahnya menjadi makam) karena almarhum pada masa hidupnya dikucilkan masyarakat berdasarkan sanksi adat. Sanksi itu dijatuhkan kepadanya karena faktor sosial dan politik. Semasa hidupnya, almarhum mencoba menggagalkan kampanye pemenangan Golkar, dia juga melarang warganya menari ke hotel berbintang kalau diupah rendah. Singkat cerita, masyarakat gempar setelah tahu ada warganya mengubur mayat di rumah. Tindakan itu dianggap mengotori desa. Warga merencanakan upacara bersih desa. Upacara bersih desa, yang tentu saja akan menghabiskan tenaga dan uang, tentu tidak perlu terjadi jika almarhum dikubur di makam desa. Namun, sanksi yang kejam, yang berlaku meski seseorang telah meninggal itulah yang menjadi sumber masalah baru. Dengan penggambaran seperti itu, pembaca didorong untuk merenung atau bertanya: yang manakah sebetulnya yang kejam? Adat Bali ataukah sentimen sosial politik yang menungganginya? Di sinilah kekuatan cerpen ini. Sebagai pengarang, Fajar sengaja tidak memberikan ketegasan. Ia hanya menunjukkan pembacanya bahwa kasus adat di Bali terjadi berulang seperti jalan tak ada ujung.
Dalam cerpen-cerpen Fajar, dilematis persoalan kewajiban sosial yang bertumpu pada adat dilukiskan dari sudut pandang tokoh-tokoh urban. Dalam cerpen "Rumah Makam" terdapat tokoh cerita yang tinggal di Jakarta, yang harus pulang untuk menyelesaikan kasus almarhum ayahnya. Ternyata kepulangannya tidak mampu menyelesaikan persoalan. Cerpen "Di Tepi Persimpangan" pun mirip dengan itu, terutama dilema yang dihadapi orang Bali dalam menghadapi realitas hidup dan tuntutan sosial-adat. Dalam "Di Tepi Persimpangan" dilukiskan kebingungan hidup seorang Bali yang bekerja di Jakarta demi karier ketika tiba-tiba ada panggilan dari keluarga di kampung halaman agar pulang karena ada kegiatan kematian dan upacara. Tantangan hidup di Jakarta luar biasa besarnya, tetapi panggilan pulang juga tak kalah seriusnya. Masalahnya tidak saja si tokoh harus meninggalkan tugas kantor tetapi harus berhitung biaya jutaan rupiah untuk biaya transportasi. Si tokoh bertanya, apakah dirinya bekerja di Jakarta hanya untuk menabung uang biaya pulang?
Sebagai pengarang, Fajar kompromi dalam menghadapi kasus ini. Tokoh cerita dilukiskan mengutus istrinya pulang, sementara si suami tetap bekerja karena tak bisa cuti dan juga demi karier. Walaupun tidak disinggung, pembaca bisa menebak bahwa tokoh cerpen ini kelak terancam terkena sanksi adat jika dia selalu absen dari kegiatan adat. Dilema seperti ini mungkin agak universal sifatnya, artinya juga dihadapi anggota masyarakat etnik atau bangsa lain. Tetapi, di Bali isolasi sosial karena adat (kasepekang) merupakan hal yang sangat serius, seperti kerap terjadi dalam kehidupan sosial dan ditulis oleh pengarang-pengarang Bali lainnya.
Hampir semua cerpen Fajar dalam antologi ini bersifat kontekstual Bali. Ada cerpen soal kasta ("Pergi dari Geriya", "Sulasih"), leluhur dan warisan ("Odah"), dan tragedi penari Bali yang ditipu menjadi hostess di Jepang ("Para Penari"). Ada juga beberapa cerpen yang ditulis berdasarkan fakta aktual kasus bom Bali, seperti bisa dibaca dalam cerpen "Bunga Jepun", "Tahun Baru Pertama di Kuta", dan "Saraswati". Sebagai wartawan, Fajar memang dekat dengan persoalan-persoalan yang ditulisnya, termasuk kasus bom Kuta. Beberapa hari setelah bom meledak, Fajar yang menjadi wartawan Kompas, mendapat tugas ke Bali untuk meliput dampak bom terhadap kehidupan sosial. Ceritanya banyak diolah dari fakta-fakta yang dihadapi sebagai wartawan. Kalau sebagai wartawan dia harus menulis fakta-fakta, sebagai cerpenis dia berimajinasi untuk membayangkan apa yang mungkin terjadi akibat fakta-fakta tersebut. Lewat cerpen, dia bisa memberikan komentar yang lebih "liar", "keras" untuk membuat ceritanya lebih menyentuh dan menyentak.
Cerpen "Bunga Jepun", yang dipilih menjadi judul buku ini, adalah kisah tentang dampak bom Bali terhadap kehidupan kesenian Bali di sebuah desa yang jauh dari Kuta. Dikisahkan, akibat bom Bali, kelompok kesenian joged desa tersebut tidak lagi mendapat undangan untuk pentas di desa padahal selama ini penghasilan kelompok kesenian ini sangat menunjang kehidupan warga desa itu. Dalam dilema itu, hal tragis pun terjadi, yakni gamelan joged dijual untuk mengatasi kesulitan hidup dan penari joged pun memutuskan untuk meninggalkan kampung halamannya, yakni pindah ke Jakarta walau hanya untuk menjadi pelayan toko. Bagi sebagian pembaca, cerpen ini mungkin sangat menyentuh tetapi bagi yang lain bisa jadi sangat menyentak karena menggambarkan sesuatu secara radikal.
Beberapa cerpen Fajar dalam antologi ini memiliki kemiripan tema dan isi dengan karya Gde Aryantha Soethama. Cerpen "Rumah Makam", misalnya, mirip dengan cerpen "Kubur Wayan Tanggu" (1996), sedangkan cerpen "Bunga Jepun" mirip dengan cerpen "Terompong Beruk" (1995). Kemiripan ini bukanlah semata masalah pengaruh-mempengaruhi tetapi yang lebih penting adalah adanya kepedulian yang sama antara pengarang Bali dalam menatap dilema-dilema yang muncul dalam masyarakatnya. Kepedulian itu tak terhindarkan karena mereka merupakan bagian dari dunia sosial dan budaya yang sama.
Kehadiran antologi cerpen "Bunga Jepun" ini dalam jagat cerpen dan sastra Indonesia tak hanya menambah buku kumpulan cerpen Indonesia yang belakang memang kian subur tetapi memperkaya ragam tema-tema cerpen Indonesia dengan warna lokal Bali. Bersama pengarang Bali lainnya seperti Panji Tisna, Putu Wijaya, Aryanta Soethama, Oka Rusmini, Fajar pun ikut memperbesar kontribusi Bali dalam perkembangan sastra Indonesia. Kita harapkan kontribusi tersebut bisa bertambah terus dari Fajar sebagai penulis muda dengan karya-karya yang jauh lebih baik dan dalam daripada kumpulan cerpen pertama "Bung Jepun" ini.
Judul : Bunga Cepun
Penulis : Putu Fajar Arcana
Penerbit : Buku Kompas
Tebal : 156 hlm.
Tahun : 2003.
CERITA pendek (cerpen) dalam kumpulan ini didominasi tema-tema masalah adat dan tradisi Bali dalam konteks modernisasi. Adat dan tradisi Bali yang dilematis sudah sering muncul ke permukaan, namun dalam kumpulan cerpen ini, hal-hal tersebut dituturkan Putu Fajar Arcana dalam bentuk cerita yang cukup menyentuh. Siapa pun membaca cerita-cerita dalam antologi ini akan merasakan bahwa Bali tengah berada "di persimpangan jalan", bingung menuju arah mana masa depan hendak diraih.
Cerpen "Rumah Makam" merupakan cerita yang paling kental memotret dilema adat Bali dalam kehidupan sosial. Dikisahkan sebuah keluarga terpaksa mengubur jenasah ayahnya di rumah (sehingga rumahnya menjadi makam) karena almarhum pada masa hidupnya dikucilkan masyarakat berdasarkan sanksi adat. Sanksi itu dijatuhkan kepadanya karena faktor sosial dan politik. Semasa hidupnya, almarhum mencoba menggagalkan kampanye pemenangan Golkar, dia juga melarang warganya menari ke hotel berbintang kalau diupah rendah. Singkat cerita, masyarakat gempar setelah tahu ada warganya mengubur mayat di rumah. Tindakan itu dianggap mengotori desa. Warga merencanakan upacara bersih desa. Upacara bersih desa, yang tentu saja akan menghabiskan tenaga dan uang, tentu tidak perlu terjadi jika almarhum dikubur di makam desa. Namun, sanksi yang kejam, yang berlaku meski seseorang telah meninggal itulah yang menjadi sumber masalah baru. Dengan penggambaran seperti itu, pembaca didorong untuk merenung atau bertanya: yang manakah sebetulnya yang kejam? Adat Bali ataukah sentimen sosial politik yang menungganginya? Di sinilah kekuatan cerpen ini. Sebagai pengarang, Fajar sengaja tidak memberikan ketegasan. Ia hanya menunjukkan pembacanya bahwa kasus adat di Bali terjadi berulang seperti jalan tak ada ujung.
Dalam cerpen-cerpen Fajar, dilematis persoalan kewajiban sosial yang bertumpu pada adat dilukiskan dari sudut pandang tokoh-tokoh urban. Dalam cerpen "Rumah Makam" terdapat tokoh cerita yang tinggal di Jakarta, yang harus pulang untuk menyelesaikan kasus almarhum ayahnya. Ternyata kepulangannya tidak mampu menyelesaikan persoalan. Cerpen "Di Tepi Persimpangan" pun mirip dengan itu, terutama dilema yang dihadapi orang Bali dalam menghadapi realitas hidup dan tuntutan sosial-adat. Dalam "Di Tepi Persimpangan" dilukiskan kebingungan hidup seorang Bali yang bekerja di Jakarta demi karier ketika tiba-tiba ada panggilan dari keluarga di kampung halaman agar pulang karena ada kegiatan kematian dan upacara. Tantangan hidup di Jakarta luar biasa besarnya, tetapi panggilan pulang juga tak kalah seriusnya. Masalahnya tidak saja si tokoh harus meninggalkan tugas kantor tetapi harus berhitung biaya jutaan rupiah untuk biaya transportasi. Si tokoh bertanya, apakah dirinya bekerja di Jakarta hanya untuk menabung uang biaya pulang?
Sebagai pengarang, Fajar kompromi dalam menghadapi kasus ini. Tokoh cerita dilukiskan mengutus istrinya pulang, sementara si suami tetap bekerja karena tak bisa cuti dan juga demi karier. Walaupun tidak disinggung, pembaca bisa menebak bahwa tokoh cerpen ini kelak terancam terkena sanksi adat jika dia selalu absen dari kegiatan adat. Dilema seperti ini mungkin agak universal sifatnya, artinya juga dihadapi anggota masyarakat etnik atau bangsa lain. Tetapi, di Bali isolasi sosial karena adat (kasepekang) merupakan hal yang sangat serius, seperti kerap terjadi dalam kehidupan sosial dan ditulis oleh pengarang-pengarang Bali lainnya.
Hampir semua cerpen Fajar dalam antologi ini bersifat kontekstual Bali. Ada cerpen soal kasta ("Pergi dari Geriya", "Sulasih"), leluhur dan warisan ("Odah"), dan tragedi penari Bali yang ditipu menjadi hostess di Jepang ("Para Penari"). Ada juga beberapa cerpen yang ditulis berdasarkan fakta aktual kasus bom Bali, seperti bisa dibaca dalam cerpen "Bunga Jepun", "Tahun Baru Pertama di Kuta", dan "Saraswati". Sebagai wartawan, Fajar memang dekat dengan persoalan-persoalan yang ditulisnya, termasuk kasus bom Kuta. Beberapa hari setelah bom meledak, Fajar yang menjadi wartawan Kompas, mendapat tugas ke Bali untuk meliput dampak bom terhadap kehidupan sosial. Ceritanya banyak diolah dari fakta-fakta yang dihadapi sebagai wartawan. Kalau sebagai wartawan dia harus menulis fakta-fakta, sebagai cerpenis dia berimajinasi untuk membayangkan apa yang mungkin terjadi akibat fakta-fakta tersebut. Lewat cerpen, dia bisa memberikan komentar yang lebih "liar", "keras" untuk membuat ceritanya lebih menyentuh dan menyentak.
Cerpen "Bunga Jepun", yang dipilih menjadi judul buku ini, adalah kisah tentang dampak bom Bali terhadap kehidupan kesenian Bali di sebuah desa yang jauh dari Kuta. Dikisahkan, akibat bom Bali, kelompok kesenian joged desa tersebut tidak lagi mendapat undangan untuk pentas di desa padahal selama ini penghasilan kelompok kesenian ini sangat menunjang kehidupan warga desa itu. Dalam dilema itu, hal tragis pun terjadi, yakni gamelan joged dijual untuk mengatasi kesulitan hidup dan penari joged pun memutuskan untuk meninggalkan kampung halamannya, yakni pindah ke Jakarta walau hanya untuk menjadi pelayan toko. Bagi sebagian pembaca, cerpen ini mungkin sangat menyentuh tetapi bagi yang lain bisa jadi sangat menyentak karena menggambarkan sesuatu secara radikal.
Beberapa cerpen Fajar dalam antologi ini memiliki kemiripan tema dan isi dengan karya Gde Aryantha Soethama. Cerpen "Rumah Makam", misalnya, mirip dengan cerpen "Kubur Wayan Tanggu" (1996), sedangkan cerpen "Bunga Jepun" mirip dengan cerpen "Terompong Beruk" (1995). Kemiripan ini bukanlah semata masalah pengaruh-mempengaruhi tetapi yang lebih penting adalah adanya kepedulian yang sama antara pengarang Bali dalam menatap dilema-dilema yang muncul dalam masyarakatnya. Kepedulian itu tak terhindarkan karena mereka merupakan bagian dari dunia sosial dan budaya yang sama.
Kehadiran antologi cerpen "Bunga Jepun" ini dalam jagat cerpen dan sastra Indonesia tak hanya menambah buku kumpulan cerpen Indonesia yang belakang memang kian subur tetapi memperkaya ragam tema-tema cerpen Indonesia dengan warna lokal Bali. Bersama pengarang Bali lainnya seperti Panji Tisna, Putu Wijaya, Aryanta Soethama, Oka Rusmini, Fajar pun ikut memperbesar kontribusi Bali dalam perkembangan sastra Indonesia. Kita harapkan kontribusi tersebut bisa bertambah terus dari Fajar sebagai penulis muda dengan karya-karya yang jauh lebih baik dan dalam daripada kumpulan cerpen pertama "Bung Jepun" ini.
KARENA KU SANGGUP
Biarlah ku sentuhmu
Berikanku rasa itu
Pelukmu yang dulu
Pernah buatku
Ku tak bisa paksamu
'tuk tinggal disisiku
Walau kau yang selalu sakiti
Aku dengan perbuatanmu
Namun sudah kau pergilah
Jangan kau sesali
Reff:
Karena ku sanggup walau ku tak mau
Berdiri sendiri tanpamu
Ku mau kau tak usah ragu
Tinggalkan aku
Huuu.. kalau memang harus begitu
Tak yakin ku kan mampu
Hapus rasa sakitku
Ku 'kan selalu perjuangkan cinta kita
Namun apa salahku
Hingga ku tak layak dapatkan kesungguhanmu
Back to Reff:
Tak perlu kau buatku mengerti
Tersenyumlah karena ku sanggup
Berikanku rasa itu
Pelukmu yang dulu
Pernah buatku
Ku tak bisa paksamu
'tuk tinggal disisiku
Walau kau yang selalu sakiti
Aku dengan perbuatanmu
Namun sudah kau pergilah
Jangan kau sesali
Reff:
Karena ku sanggup walau ku tak mau
Berdiri sendiri tanpamu
Ku mau kau tak usah ragu
Tinggalkan aku
Huuu.. kalau memang harus begitu
Tak yakin ku kan mampu
Hapus rasa sakitku
Ku 'kan selalu perjuangkan cinta kita
Namun apa salahku
Hingga ku tak layak dapatkan kesungguhanmu
Back to Reff:
Tak perlu kau buatku mengerti
Tersenyumlah karena ku sanggup
SCANNER
Scanner adalah suatu alat elektronik yang fungsinya mirip dengan mesin fotokopi. Mesin fotocopy hasilnya dapat langsung kamu lihat pada kertas sedangkan scanner hasilnya ditampilkan pada layar monitor komputer dahulu kemudian baru dapat dirubah dan dimodifikasi sehingga tampilan dan hasilnya menjadi bagus yang kemudian dapat disimpan sebagai file text, dokumen dan gambar.
Bentuk dan ukuran scanner bermacam-macam, ada yang besarnya seukuran dengan kertas folio ada juga yang seukuran postcard, bahkan yang terbaru, berbentuk pena yang baru diluncurkan oleh perusahaan WizCom Technologies Inc. Scanner berukuran pena tersebut bisa menyimpan hingga 1.000 halaman teks cetak dan kemudian mentransfernya ke sebuah komputer pribadi (PC). Scanner berukuran pena tersebut dinamakan Quicklink. Pena scanner itu berukuran panjang enam inci dan beratnya sekitar tiga ons. Scanner tersebut menurut WizCom dapat melakukan pekerjaannya secara acak lebih cepat dari scanner yang berbentuk datar.
Data yang telah diambil dengan scanner itu, bisa dimasukkan secara langsung ke semua aplikasi komputer yang mengenali teks ASCII.
Pada saat ini banyak sekali scanner yang beredar di dunia dengan berbagai merk pula, Di antaranya scanner keluaran dari Canon, Hewlett Packard ( HP ), EPSON, UMAX dan masih banyak lagi.
Perbedaan tiap scanner dari berbagai merk terletak pada pemakaian teknologi dan resolusinya. Pemakaian teknologi misalnya penggunaan tombol-tombol digital dan teknik pencahayaan.
Cara kerja Scanner :
Ketika kamu menekan tombol mouse untuk memulai Scanning, yang terjadi adalah :
1. Penekanan tombol mouse dari komputer menggerakkan pengendali kecepatan pada mesin scanner. Mesin yang terletak dalam scanner tersebut mengendalikan proses pengiriman ke unit scanning.
2. Kemudian unit scanning menempatkan proses pengiiman ke tempat atau jalur yang sesuai untuk langsung memulai scanning.
3. Nyala lampu yang terlihat pada Scanner menandakan bahwa kegiatan scanning sudah mulai dilakukan.
4. Setelah nyala lampu sudah tidak ada, berarti proses scan sudah selesai dan hasilnya dapat dilihat pada layar monitor.
5. Apabila hasil atau tampilan teks / gambar ingin dirubah, kita dapat merubahnya dengan menggunakan software-software aplikasi yang ada. Misalnya dengan photoshop, Adobe dan lain- lain. pot scanned.
Ada dua macam perbedaan scanner dalam memeriksa gambar yang berwarna yaitu :
1. Scanner yang hanya bisa satu kali meng-scan warna dan menyimpan semua warna pada saat itu saja.
2. Scanner yang langsung bisa tiga kali digunakan untuk menyimpan beberapa warna. Warna-warna tersebut adalah merah, hijau dan biru.
Scaner yang disebut pertama lebih cepat dibandingkan dengan yang kedua, tetapi menjadi kurang bagus jika digunakan untuk reproduksi warna. Kebanyakan scanner dijalankan pada 1-bit (binary digit / angka biner), 8-bit (256 warna), dan 24 bit (lebih dari 16 juta warna). Nah, bila kita membutuhkan hasil yang sangat baik maka dianjurtkan menggunakan scanner dengan bit yang besar agar resolusi warna lebih banyak dan bagus.
Bentuk dan ukuran scanner bermacam-macam, ada yang besarnya seukuran dengan kertas folio ada juga yang seukuran postcard, bahkan yang terbaru, berbentuk pena yang baru diluncurkan oleh perusahaan WizCom Technologies Inc. Scanner berukuran pena tersebut bisa menyimpan hingga 1.000 halaman teks cetak dan kemudian mentransfernya ke sebuah komputer pribadi (PC). Scanner berukuran pena tersebut dinamakan Quicklink. Pena scanner itu berukuran panjang enam inci dan beratnya sekitar tiga ons. Scanner tersebut menurut WizCom dapat melakukan pekerjaannya secara acak lebih cepat dari scanner yang berbentuk datar.
Data yang telah diambil dengan scanner itu, bisa dimasukkan secara langsung ke semua aplikasi komputer yang mengenali teks ASCII.
Pada saat ini banyak sekali scanner yang beredar di dunia dengan berbagai merk pula, Di antaranya scanner keluaran dari Canon, Hewlett Packard ( HP ), EPSON, UMAX dan masih banyak lagi.
Perbedaan tiap scanner dari berbagai merk terletak pada pemakaian teknologi dan resolusinya. Pemakaian teknologi misalnya penggunaan tombol-tombol digital dan teknik pencahayaan.
Cara kerja Scanner :
Ketika kamu menekan tombol mouse untuk memulai Scanning, yang terjadi adalah :
1. Penekanan tombol mouse dari komputer menggerakkan pengendali kecepatan pada mesin scanner. Mesin yang terletak dalam scanner tersebut mengendalikan proses pengiriman ke unit scanning.
2. Kemudian unit scanning menempatkan proses pengiiman ke tempat atau jalur yang sesuai untuk langsung memulai scanning.
3. Nyala lampu yang terlihat pada Scanner menandakan bahwa kegiatan scanning sudah mulai dilakukan.
4. Setelah nyala lampu sudah tidak ada, berarti proses scan sudah selesai dan hasilnya dapat dilihat pada layar monitor.
5. Apabila hasil atau tampilan teks / gambar ingin dirubah, kita dapat merubahnya dengan menggunakan software-software aplikasi yang ada. Misalnya dengan photoshop, Adobe dan lain- lain. pot scanned.
Ada dua macam perbedaan scanner dalam memeriksa gambar yang berwarna yaitu :
1. Scanner yang hanya bisa satu kali meng-scan warna dan menyimpan semua warna pada saat itu saja.
2. Scanner yang langsung bisa tiga kali digunakan untuk menyimpan beberapa warna. Warna-warna tersebut adalah merah, hijau dan biru.
Scaner yang disebut pertama lebih cepat dibandingkan dengan yang kedua, tetapi menjadi kurang bagus jika digunakan untuk reproduksi warna. Kebanyakan scanner dijalankan pada 1-bit (binary digit / angka biner), 8-bit (256 warna), dan 24 bit (lebih dari 16 juta warna). Nah, bila kita membutuhkan hasil yang sangat baik maka dianjurtkan menggunakan scanner dengan bit yang besar agar resolusi warna lebih banyak dan bagus.
Langganan:
Postingan (Atom)


